Selasa, 28 Februari 2012

CONSERVE AND PRESERVE BATIK AS OUR GOLD HERITAGE



Saya tidak henti terkagum-kagum dan speechless ketika melihat salah satu liputan top culture  di dahsyat (20 Februari 2012) yang melaporkan kisah kecintaan seorang wanita kelahiran Amerika yang sangat jatuh cinta dengan salah satu warisan  budaya leluhur kita yaitu seni batik.Jujur, saya selaku rakyat Indonesia mengaku merasa agak malu dengan diri sendiri setelah melihat liputan tersebut. Sudah saatnya kita membuka mata mengintrospeksi diri mengenai kesadaran dan kecintaan kita terhadap seni budaya yang telah diwariskan kepada kita.
Laura Cohn, seorang warga Amerika yang telah menetap di Indonesia selama lebih kurang enam tahun telah menggeluti dunia seni batik selama hampir 15 tahun hanya semata-mata untuk membuktikan dan melampiaskan rasa cintanya yang sangat luar biasa kepada seni batik Indonesia. Bahkan rasa cintanya  yang mendalam turut diekspresikan dalam bentuk pameran dan lukisan batik Indonesia yang sangat kreatif dan menginspiratif. Namun usaha luar biasanya tidak hanya terhenti disitu,  Laura Cohn dengan penuh yakin dan antusias turut memperkenalkan seni batik  kepada masyarakat Amerika. Hasilnya, melalui berbagai bentuk pameran  warga Amerika  dapat merasakan dan melihat langsung proses membatik. Selain itu, ini juga merupakan salah satu  cara bagi  Amerika untuk menyampaikan apresiasi dan kekaguman mereka terhadap seni batik Indonesia. Ini merupakan fenomena yang sangat jarang terjadi dimana seorang wanita bule yang  rela bercucuran keringat demi mempertahankan eksistensi seni budaya Indonesia sekaligus merupakan sindiran halus (ironi) terhadap kita khususnya generasi muda yang rasa cintanya terhadap batik sudah memudar.
        Batik merupakan salah satu seni kerajinan tangan yang identik dengan Indonesia. Batik pertama kali diperkenalkan oleh presiden Soeharto pada saat konferensi. Ia sangat berkait erat dengan kehidupan kita. Saat pertama kali lahir ke dunia  kita sudah disambut dengan  kehangatan balutan sarung batik sampai akhir menutup mata. Batik  memiliki nilai seni dan estetika yang tinggi disamping memiliki nilai ekonomis. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan ketrampilan dalam membatik sebagai mata pencaharian. Ciri  khas dari batik adalah motifnya  yang unik dan bermutu. Parang, truntum, atau buket merupakan jenis motif kain batik. Kain yang digambar  tentunya tidak sekadar kain bermotif, tetapi mengandung nilai-nilai filosofi di dalamnya. Bahkan beberapa motif batik khususnya masyarakat Jawa menganggap  batik dapat menunjukkan status seseorang. 
                                           Persoalan  utama yang berada di kepala saya sekarang adalah bagaimana dengan nasib seni batik di era globalisasi saat ini. Jika dibandingkan dengan beberapa dekad lalu, kondisi seni batik sangat memprihatinkan dan mengalami penurunan terutama jumlah penggemarnya. Batik hanya dipakai dalam kegiatan tertentu.  Berkurangnya kesadaran dan rasa cinta terhadap budaya hak milik kita terutama di kalangan generasi muda  dapat menjadi salah satu faktor penyebab hilangnya seni batik di Indonesia kelak. Selain itu, pengaruh dari barat sangat mudah diakses dan meracuni pikiran generasi muda dengan fashion dan style  pakaian yang menggiurkan walaupun terkadang dapat dikategorikan sebagai pakaian yang kekurangan kain. Jika kondisi ini berterusan, perlahan tetapi pasti seni batik Indonesia akan lenyap dimuka bumi ini dan tidak menutup kemungkinan ia akan dirampas dan menjadi hak milik paten negara lain seperti kasus pengakuan hak milik budaya Indonesia oleh negara Malaysia.
Oleh karena itu, bangunlah warga Indonesia yang selama ini telah dininabobokan oleh budaya barat. Janganlah terus berpangku tangan dan hadirkan rasa malu dalam diri. Sungguh sangat tidak masuk akal ketika warganegara lain sibuk melestarikan budaya kita sedangkan kita sendiri hanya duduk goyang-goyang kaki menunggu hasilnya. Janganlah menjadi bangsa yang hanya ikut meramaikan suasana ketika keberhasilan diraih tetapi bangkitlah untuk berpartisipasi dan  berperan penting dalam menjadi penggerak. Inisiatif yang kecil tetapi berdampak luar biasa berasal dari diri kita sendiri. Tidak penting melalui cara apa, inisiatif besar atau kecil jika memiliki dampak yang signifikan pasti akan membawa perubahan. Kita mula dengan membiasakan diri untuk memakai batik dan tentunya tidak harus dalam bentuk pakaian saja. Barang-barang yang digunakan sehari-hari dapat dibuat dari batik seperti tas, perlengkapan dinner set, interior atau lukisan.
Selain itu, pengadaan museum batik dapat menjadi media pembelajaran bagi masyarakat terutama generasi muda. Batik juga dapat dilestarikan dengan publikasi maupun penerbitan buku tentang batik. Untuk membuat agar batik tetap up to date dan memenuhi selera pasar, para pengrajin batik giat melakukan inovasi terhadap motif maupun perwarnaan.

Namun semua upaya ini juga tidak akan pernah lepas dari peran pemerintah yang menjadi penggerak utama . Selain melestarikan, batik harus dilindungi dengan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Upaya ini dilakukan supaya motif batik sebagai warisan leluhur tidak diakui bangsa lain. Ini merupakan langkah waspada yang efektif agar negara lain tidak bertindak seenaknya  mengklaim budaya kita sebagai hak milik mereka.
Oleh karena itu, marilah kita berganding bahu untuk menjaga dan melestarikan warisan khasanah yang diwariskan dari nenek moyang kita. Batik bukan hanya sekadar kain namun lebih dari itu. Ia mengandung  nilai filosofis dan menjadi ciri khas bagi Indonesia. Jika bukan kita yang melindungi dan mempertahankannya, siapa lagi? So young generation keep inspiring and empowering batik in your life for the better future.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar